Perguruan Pencak Silat Baskara Domas (PPS-BD) adalah Perguruan Pencak Silat tertua di Bogor yang berdiri sekitar tahun 1968, berbarengan dengan Perguruan PS Padjadjaran Tjimande dan Padjadjaran Indonesia. Pencetusnya adalah Kakak beradik Ardi Sahendra dan Ardi Heryana yang mengembangkan perguruan di daerah Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Bapak Ardi Sahendra memiliki seorang murid yang bernama Bapak Sukanta (alm) beliau adalah seorang Guru Besar Domas yang mendirikan Perguruan Baskara Domas di Bogor dengan nama “Pusaka Cahaya Domas”, di daerah Budi Agung, Jalan Baru.

Bapak Sukanta kemudian menurunkan Gelar Guru Besarnya kepada seorang muridnya yang bernama Bapak Harry Purwanto. Bapak Harry kemudian membuka cabang Domas di Ciawi, yaitu di Balai Penelitian Ternak pada tahun 1972 dan mengangkat 3 orang murid angkatan pertama, kemudian kurang lebih 150 orang murid periode kedua. seiring bergantinya waktu, murid-murid PPS-BD semakin menyusut karena satu dan lain hal, sehingga menyisakan 1 (satu) orang murid yang kemudian diangkat menjadi Ketua Perguruan, beliau adalah Riswan Setiawan.

Kemudian pada tahun 1997, PPS-BD membuka ranting di SMA 1 Ciawi yang dipimpin langsung oleh Bapak Harry Purwanto. Setelah berjalan kurang lebih 4 tahun, pimpinan kepelatihan diganti oleh seorang muridnya yang bernama Abdurrahman selama 2 tahun, lalu digantikan kembali oleh Doni Romadhan pada tahun 2003. Setelah banyaknya pergantian kepelatihan, akhirnya pada tahun 2004, PPS-BD ranting SMA Negeri 1 Ciawi di ambil alih oleh Riswan Setiawan hingga sekarang (2009).

Sedangkan Guru Besar Ardi Heryana yang mengembangkan Pencak Silat aliran Domas di Jakarta, memiliki 5 (lima) orang murid yang salah satunya berhasil masuk ke kejuaraan PON pada tahun 1974, beliau adalah Bapak Sutjipto, yang saat ini berkedudukan di Dewan Penasehat PPS-BD, sedangkan empat orang murid lainnya adalah Bapak Sumardi, Bapak Lukman, Bapak Priatno dan Bapak Slamet MD. Bapak Ardi Sahendra kemudian pindah ke daerah Ciawi, Tasik Malaya. Beliau membuka Cabang Domas dan mengembangkannya hingga daerah Garut dan Sukabumi.

Materi Jurus yang diajarkan sebelumnya hanya Jurus Tradisi Perguruan yang merupakan gabungan dari beberapa aliran diantaranya Kelid Cimande, Silat Cikalong, Silat Garut, PS Panahan (Jawa Tengah)/SPSH, dan aliran Syahbandar . Hingga saat ini materi jurus yang diajarkan kepada anggota perguruan semakin berkembang, seperti Jurus Tepak 2, Tepak 3, Tepak 7, Tepak Paleredan, Jurus tonjok (wajib SD) Senam Nasional, Tanding, Tunggal, Ganda dan Regu (TTGR) serta beberapa seni / igel Kembangan dan lain-lain.

Keistimewaan dari jurus-jurus tradisi domas seperti diutarakan oleh bapak Sutjipto selaku dewan penasihat terdiri dari 2 (dua) aliran utama. Yang Pertama, merupakan aliran jasmani atau jurus fisik. Jurus ini terdiri dari 5 gerakan senam jurus, 20 gerakan jurus Domas, 21 Gerakan Jurus Baskara atau jurus dewasa, serta 2 gerakan jurus penutup. Yang Kedua adalah aliran tenaga dalam. tenaga dalam yang ada pada diri setiap manusia terdiri dari dua jenis, yaitu tenaga dalam Dzohir atau tenaga dalam murni yang di olah melalui olah raga, olah nafas dan olah rasa, sedangkan yang kedua adalah tenaga dalam Ilahi atau tenaga dalam bathin yang di olah melalui pelatihan khusus dan pembersihan diri dan merupakan gabungan dari tenaga dalam murni dan ayat suci, karena silat berasal dari bisa, biasa, refleks, yakin dan ghaib.

Adapun nama perguruan Domas di setiap daerah berlainan, seperti di Ciawi ini yang bernama “Baskara Domas”, sedangkan Induk Perguruan Yang berada di Jakarta bernama “Sinalika Cahaya Domas Kencana“, “Pagar Betis Domas” berada di Tasik Malaya, Aliran Domas Garut menamai perguruannya dengan nama “Salaka Domas” dan didaerah Jawa tengah, terdapat perguruan “Domas Nitis” yang kesemuanya masih aktif dan eksis hingga sekarang, serta menganut aliran yang sama, yaitu aliran pencak silat Domas.

Adapun nama Baskara Domas di prakarsai oleh 5 orang sesepuh dari beberapa perguruan, antara lain:

v Bapak Dahlan (alm) dari aliran SPSH

v Bapak Suminta dari aliran Cimande

v Bapak Sujono dari aliran PS. Panahan Jawa Tengah

v Bapak Sukanta dari aliran Domas, dan

v Bapak Suryo Buono dari aliran Domas

PPS-BD saat ini mangadakan latihan rutin di SMA Negeri 1 Ciawi, yang beralamat di Jalan Veteran III, Banjarsari, Selain di SMA Negeri, PPS-BD mengadakan latihan rutin hari minggu di kediaman Bapak Sutjipto, Dewan Penasehat PPS-BD yang bertempat di Jl. Veteran III Ds. Banjarwangi Komp. BPT No. 42.

Penuturan Bapak Harry Purwanto, seorang staff kantor penelitian di Balai Penelitian Ternak (BPT) yang sekaligus Guru Besar Perguruan Pencak Silat Baskara Domas mengatakan, “Bela diri apapun itu bagus, asalkan tujuannya untuk memBELA DIRI dan bukan untuk berlagak sombong”.

Hal ini ditegaskan oleh Dewan Penasehat perguruan yang juga Guru Besar Domas Jakarta, yaitu Bapak Sutjipto, beliau berpesan kepada seluruh murid perguruan Baskara Domas agar tidak menjadikan Pencak Silat sebagai tameng premanisme atau untuk “gagah-gagahan”. segala hal yang menyangkut perguruan telah diatur dalam AD / ART Perguruan. Begitu pula Murid PPS-BD telah terikat oleh janji perguruan yang berbunyi :

JANJI PERGURUAN

“Kami Murid perguruan Pencak Silat Baskara Domas berjanji,

1. Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa;

2. Patuh dan taat pada peraturan perguruan;

3. Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik perguruan;

4. Berani hidup berdasarkan atas kekuatan diri sendiri;

5. Selalu membela kebenaran”

kelima poin janji diatas yang selalu ditekankan kepada semua anggota PPS-BD. Adapun ikrar pesilat lainnya yang mengatur pola sikap dan perilaku adalah sapta prasetya, yang berbunyi:

PRASETYA PESILAT INDONESIA

1. Kami pesilat Indonesia adalah warga negara yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,

2. Kami pesilat Indonesia adalah warga negara yang membela dan mengamalkan Pancasila,

3. Kami pesilat Indonesia adalah pejuang yang cinta bangsa dan tanah air,

4. Kami pesilat Indonesia adalah pejuang yang menjunjung tinggi persaudaraan dan persatuan bangsa,

5. Kami pesilat Indonesia adalah pejuang yang senantiasa mengejar kemajuan dan berkepribadian Indonesia,

6. Kami pesilat Indonesia adalah ksatria yang senantiasa menegakkan kebenaran, kejujuran dan Keadilan,

7. Kami pesilat Indonesia adalah ksatria yang tahan dalam menghadapi cobaan dan godaan.